KONDISI FISIK WILAYAH DAN PENDUDUK INDONESIA

Published 27 Maret 2012 by Guru IPS SMPN 1 Gempol-Cirebon

A.     KONDISI FISIK WILAYAH INDONESIA

1.     Letak Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan yang berbentuk republik, terletak di kawasan Asia Tenggara. Indonesia memiliki lebih kurang 17.000 buah pulau dengan luas daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan 3.257.483 km2 Berdasarkan posisi geografisnya, negara Indonesia memiliki batas-batas: Utara : Negara Malaysia, Singapura, Filipina, Laut Cina Selatan. Selatan : Negara Australia, Samudera Hindia. Barat : Samudera Hindia. Timur : Negara Papua Nugini, Timor Leste, Samudera Pasifik.


Gambar 1. Letak Indonesia

a.     Letak Astronomis
Letak astronomis suatu negara adalah posisi letak yang berdasarkan garis lintang dan garis bujur. Garis lintang adalah garis khayal yang melingkari permukaan bumi secara horizontal, sedangkan garis bujur adalah garis khayal yang menghubungkan Kutub Utara dan Kutub Selatan. Letak astronomis Indonesia di antara 6oLU – 11oLS dan 95oBT – 141oBT. Berdasarkan letak astronomisnya Indonesia dilalui oleh garis equator, yaitu garis khayal pada peta atau globe yang membagi bumi menjadi dua bagian sama besarnya. Garis equator atau garis khatulistiwa terletak pada garis lintang 0o.
Berdasarkan letak lintangnya, wilayah Indonesia berada di antara  6oLU – 11oLS. Hal ini menyebabkan Indonesia beriklim tropis dengan ciri-ciri:
1.    memiliki curah hujan yang tinggi,
2.    memiliki hujan hutan tropis yang luas dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi,
3.    menerima penyinaran matahari sepanjang tahun,
4.    banyak terjadi penguapan sehingga kelembapan udara cukup tinggi.
Letak astronomi Indonesia yang berada di antara 95o BT – 141o  BT menjadikan Indonesia memiliki tiga daerah waktu. Hal ini terjadi yaitu:
1.    Daerah Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), meliputi seluruh Sumatra, Jawa, Madura, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Waktu Indonesia Barat memiliki selisih waktu 7 jam  lebih awal dari GMT (Greenwich Mean Time).
2.    Daerah Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), meliputi Bali, Nusa Tengara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur , Pulau Sulawesi, dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Waktu Indonesia Tengah memiliki selisih waktu 8 jam lebih awal dari GMT.
3.    Daerah Waktu Indonesia bagian Timur (WIT), meliputi Kepulauan Maluku, Papua, dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Waktu Indonesia bagian timur memiliki  selisih waktu 9 jam lebih awal dari GMT.

b.     Letak geografis
Letak geografis adalah letak suatu wilayah sesuai dengan kondisi wilayah yang sebenarnya di permukaan bumi. Biasanya letak geografis dilihat dari permukaan bumi yang ada di sekitarnya. Secara geografis, Indonesia  diapit oleh dua benua besar, yaitu Benua Asia di sebelah Barat Laut dan Benua Australia di sebelah Tenggara. Indonesia juga diapit oleh dua samudra, yaitu Samudra Hindia  di sebelah Barat dan Selatan dan Samudra Pasifik di sebelah Timur Laut. Itulah letak dan posisi Negara kita.
Letak negara Indonesia pada posisi silang, menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang strategis. Dilalui oleh jalur perdagangan internasional baik melalui laut maupun udara. Keadaan ini tentu saja dapat memberikan keuntungan bagi negara kita pada masa damai tetapi memiliki posisi yang rawan pada saat terjadi konflik.

c.     Letak Geologis
Letak geologis adalah letak suatu wilayah berdasarkan susunan batuan yang ada pada bumi. Letak  geologis wilayah Indonesia adalah sebagai berikut.
1.    Indonesia merupakan bagian dari dua buah rangkaian pegunungan besar di dunia, yaitu rangkaian Pengunungan Mediteran dan rangkaian Pegunungan Sirkum Pasifik.
2.    Indonesia terletak pada pertemuan lempeng litosfer, yaitu lempeng Indonesia – Australia yang bertumbukan dengan lempeng Asia.
3.    Indonesia terletak pada tiga daerah dangkalan, yaitu Dangkalan Sunda, Dangkalan Sahul dan Daerah Laut pertengahan Australia Asiatis.

Letak geologis inilah yang menyebabkan wilayah Indonesia banyak dijumpai gunung berapi, sehingga banyak wilayah di Indonesia yang kesuburannya cukup tinggi. Namun  perlu disadari pula bahwa letak geologis yang demikian itu menyebabkan wilayah Indonesia rawan dengan bencana alam seperti gunung meletus dan gempa bumi.


Gambar 2. Letak geologis Indonesia

2.     Hubungan Posisi Geografis Dengan Perubahan Musim di Indonesia

Jika dilihat dari letak astronomis, maka wilayah Indonesia terletak pada daerah tropis. Daerah tropis terletak di antara 00  LU – 23½0 LU dan 00 LS – 23½0 LS.  Di daerah tropis, kita hanya mengenal dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan terutama terjadi pada waktu bertiup angin muson barat, sedangkan musim kemarau terjadi ketika bertiup angin muson timur.
Indonesia terletak di wilayah ekuator, berada antara benua Asia dan Australia, serta antara Samudra Pasifik dan Samudra India. Besar kecil tekanan udara sangat dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi. Pada  tanggal 22 Juni posisi matahari beredar di 23½° LU. Pada tanggal 23 September, posisi matahari beredar di atas katulistiwa. Pada tanggal 22 Desember posisi matahari beredar di 23½° LS. Pada tanggal 21 Maret posisi matahari beredar di katulistiwa.


Gambar 3.Gerak semu matahari

Perubahan letak  terbitnya matahari berpengaruh terhadap intensitas cahaya matahari pada wilayah yang berkaitan langsung dengan tempat lintasan peredaran semu matahari tersebut. Salah satu akibat dari peredaran semu tahunan matahari adalah terjadinya perubahan gerakan angin yang dikenal dengan nama angin muson. Angin muson adalah angin yang bertiup setiap 6 bulan sekali dan selalu berganti arah. Di Indonesia terdapat dua angin muson, yaitu:
a.    Angin muson barat
Bertiup setiap bulan Oktober sampai Maret, saat kedudukan semu matahari di belahan bumi selatan. Hal ini menyebabkan tekanan udara maksimum di Asia dan tekanan udara minimum di Australia, maka bertiuplah angin dari Asia ke Australia (tekanan tinggi ke rendah). Karena angin melalui Samudra Hindia, maka angin tersebut mengandung uap air yang banyak, sehingga pada bulan Oktober sampai Maret di Indonesia terjadi musim penghujan.
b.    Angin muson timur
Bertiup mulai bulan April sampai September, di mana kedudukan semu matahari di belahan bumi utara. Akibatnya tekanan udara di Asia rendah dan tekanan udara di Australia tinggi, sehingga angin bertiup dari Australia ke Asia. Angin tersebut melewati gurun yang luas di Australia, sehingga bersifat kering. Oleh karena itu Indonesia saat itu mengalami musim kemarau.


Gambar 4. Angin muson barat dan angin muson timur

3.     Persebaran Flora dan Fauna di Indonesia
Jenis-jenis dan persebaran fauna di Indonesia sangat terkait dengan sejarah terbentuknya daratan di Indonesia yang berawal pada zaman es. Pada masa itu, wilayah Indonesia bagian Barat yang disebut juga Dataran Sunda masih menyatu dengan Benua Asia, sedangkan Indonesia bagian Timur yang disebut juga Dataran Sahul menyatu dengan Benua Australia. Dataran Sunda dan Dataran Sahul juga masih berupa daratan belum dipisahkan oleh laut dan selat. Keadaan tersebut menyebabkan keanekaan flora dan fauna di Indonesia bagian Barat seperti Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sumatera pada umumnya menunjukkan kemiripan dengan flora di Benua Asia.
Begitu pula dengan flora dan fauna di Indonesia bagian Timur seperti Irian Jaya dan pulau-pulau disekitarnya pada umumnya mempunyai kemiripan dengan flora dan fauna di benua Australia. Jadi, Indonesia pada masa itu menjadi jembatan penghubung persebaran hewan dari Asia dan Australia.
Kemudian, pada akhir zaman es, suhu permukaan bumi naik sehingga permukaan air laut naik kembali. Naiknya permukaan air laut mengakibatkan Jawa terpisah dengan Benua Asia, kemudian Kalimantan dan terakhir Sumatera.
Seorang berkebangsaan Inggris bernama  Wallace mengadakan penelitian mengenai penyebaran hewan bagian Barat dengan hewan di Indonesia bagian Timur. Batasnya di mulai dari Selat Lombok sampai ke Selat Makasar. Oleh sebab itu, garis batasnya dinamakan garis  Wallace. Batas ini bersamaan pula dengan batas penyebaran binatang dan tumbuhan dari Asia ke Indonesia.
Di samping itu seorang peneliti berkebangsaan Jerman bernama Weber, berdasarkan penelitiannya tentang penyebaran fauna di Indonesia, menetapkan batas penyebaran hewan dari Australia ke Indonesia bagian Timur. Garis batas tersebut dinamakan garis Weber. Sedangkan daerah di antara dataran Sunda dan dataran Sahul oleh para ahli biografi disebut daerah Peralihan.

a.    Flora di Indonesia

1.    Flora di Indonesia Bagian Barat
Flora di wilayah Indonesia bagian Barat didominasi oleh vegetasi hutan hujan tropis yang selalu basah. Hal ini dikarenakan pada kawasan ini mempunyai curah hujan dan kelembapan yang cukup tinggi. Jenis-jenis flora di kawasan ini memiliki kesamaan ciri dengan flora di Benua Asia pada umumnya. Adapun flora tipe Asia (Asiatis) memiliki ciri-ciri, berikut ini.
1)    Memiliki berbagai jenis tumbuhan kayu yang berharga, misalnya jati, meranti, kruing, mahoni, dan sejenisnya.
2)    Selalu hijau sepanjang tahun.
3)    Bersifat heterogen.
Selain itu, di wilayah Indonesia bagian Barat juga terdapat tumbuhan endemik (hanya ada di daerah tersebut), yaitu  Raflesia arnoldi di Sumatra. Wilayah Indonesia bagian Barat juga banyak dijumpai kawasan hutan mangrove (hutan bakau), antara lain di pantai Timur Sumatra, pantai Barat dan Selatan Kalimantan, serta pantai Barat dan Utara Jawa.

2.    Flora di Indonesia Bagian Tengah
Daerah peralihan meliputi wilayah Pulau Sulawesi dan kepulauan di sekitarnya serta Kepulauan Nusa Tenggara. Di kawasan ini tidak kita jumpai adanya hutan yang lebat. Jenis hutan yang ada hanyalah hutan semusim atau hutan homogen yang tidak begitu lebat, bahkan di kawasan Nusa Tenggara kita hanya akan menjumpai adanya sabana dan stepa.  Sabana adalah padang rumput yang luas dengan tumbuhan kayu di sana-sini, sedangkan  stepa  adalah tanah kering yang hanya ditumbuhi semak belukar. Kondisi ini terjadi karena di wilayah Nusa Tenggara memiliki curah hujan yang relatif lebih sedikit bila dibandingkan pulau-pulau lain di Indonesia. Jenis tumbuhan yang mendominasi di wilayah Indonesi bagian tengah, antara lain, jenis palma, cemara, dan pinus.

3.    Flora di Indonesia Bagian Timur
Flora di wilayah Indonesia bagian Timur didominasi oleh hutan hujan tropis. Akan tetapi, jenis tumbuhannya berbeda dengan jenis tumbuhan di wilayah Indonesia bagian Barat. Jenis  flora di wilayah hutan hujan tropis bagian Timur memiliki kesamaan dengan flora di kawasan Benua Australia, sehingga jenis floranya bersifat Australis. Salah satu flora ciri khas di kawasan Indonesia Timur adalah anggrek.

b.    Dunia Hewan (Fauna) di Indonesia
Keanekaragaman fauna di Indonesia secara langsung atau tidaklangsung dipengaruhi oleh keadaan floranya. Luasnya wilayah dan sejarah geologi yang panjang menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan fauna yang patut dibanggakan. Berdasarkan penelitian, 17% jenis burung dunia, 16% jenis reptil dunia, dan 12% jenis mamalia dunia dapat dijumpai di Indonesia. Angka-angka tersebut belum termasuk fauna endemik, diperkirakan 200 dari 515 jenis mamalia di Indonesia adalah jenis mamalia endemik, demikian pula 430 dari 1.519 jenis burung yang ada. Kepulauan Indonesia memiliki sejarah geologis yang menarik. Hal ini berpengaruh terhadap persebaran faunanya. Laut yang memisahkan antarpulau membatasi hubungan antarfauna sejenis, sehingga mereka secara berangsur-angsur berkembang dengan cara mereka masing-masing sesuai dengan adaptasi mereka terhadap lingkungan setempat. Hal inilah salah satu faktor yang memunculkan keanekaragaman fauna di Indonesia. Secara garis besar, per sebaran fauna di Indonesia dapat dibedakan menjadi fauna Indonesia bagian Barat, fauna Indonesia bagian tengah, dan fauna Indonesia bagian Timur.

1.     Fauna Indonesia Bagian Barat
Fauna Indonesia bagian Barat adalah fauna-fauna yang terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan pulau- pulau kecil di sekitarnya. Dahulu pulau-pulau tersebut merupakan satu daratan dengan Semenanjung Malaka (Benua Asia), sehingga flora dan faunanya dapat berkembang dan berpencar secara bebas. Ketika Sumatera, Kalimantan, dan Jawa terpisah dari Benua Asia, maka masing-masing daerah tersebut membawa perwakilan jenis flora  dan fauna yang sama. Oleh karena itu, jenis fauna di wilayah Indonesia bagianBarat disebut juga dengan jenis fauna Asiatis. Beberapa ciri fauna Asiatis, antara lain, banyak dijumpai mamalia  ukuran besar, berbagai jenis kera dan jenis ikan air tawar, akan tetapi sedikit jenis burung berwarna. Beberapa jenis fauna endemik di wilayah Indonesia bagian Barat, antara lain, badak bercula satu, burung merak, jalak bali, dan orang utan, tapir dan babon

2.     Fauna Indonesia Bagian Tengah
Jenis fauna Indonesia tengah terdapat di Pulau Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan beberapa pulau di sekitarnya. Fauna Indonesia bagian tengah ini merupakan fauna peralihan, karena mempunyai ciri khas tersendiri bila dibandingkan dengan fauna Indonesia bagian Barat ataupun fauna Indonesia bagian Timur. Perbedaan karakteristik fauna antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian tengah dibatasi dengan garis khayal yang dikenal dengan sebutan  Garis Wallacea. Hewan khas yang terdapat di wilayahIndonesia bagian tengah, antara lain, burung maleo, anoa, komodo, dan babirusa.

3.     Fauna Indonesia bagian Timur
Fauna Indonesia Bagian Timur adalah  jenis fauna yang terdapat di Pulau Papua, Kepulauan Aru, danbeberapa pulau kecil di sekitarnya. Dahulu pulau-pulau tersebut merupakan satu kesatuan dengan Benua Australia sehingga flora dan faunanya dapat berkembang dan berpencar secara bebas. Ketika Papua dan beberapa pulau lainnya terpisah dariBenua Australia, maka daerah-daerah tersebut membawa perwakilan jenis flora dan fauna yang sama. Olehkarena itu, jenis fauna di wilayah Indonesia  bagian Timur disebut juga dengan jenis fauna Australis.
Karakteristik fauna di wilayah Indonesia Timur berbeda dengan karakteristik fauna di Indonesia bagian tengah. Perbedaan wilayah ini dibatasi oleh garis khayal yang dikenal dengan sebutan garis Webber. Beberapa ciri fauna Australis, antara lain, memiliki jenis mamalia berukuran kecil, hanya memiliki satu jenis kera, terdapat jenis hewan berkantung, banyak terdapat jenis burung berbulu indah, akan tetapi sedikit jenis ikan air tawar. Beberapa jenis fauna endemik di wilayah Indonesia bagian Timur, antara lain, burung cendrawasih, dan burung kasuari. Pembagian wilayah flora dan fauna oleh garis Wallacea dan Webber tersebut didasarkan pada kesamaan sifat makhluk hidup dan sejarah geologi yang memengaruhi persebarannya. Apabila dipetakan, maka lintasan garis Wallacea dan Webber akan tampak seperti berikut ini.


Gambar 6. Garis Wallacea dan Garis Weber

4.     Persebaran Jenis Tanah dan Pemanfaatannya di Indonesia
Perbedaan kondisi tanah disebabkan karena susunan mineral di dalamnya yang berbeda-beda. Karena tanah berasal dari hasil pelapukan batuan induk (anorganik) yang terbentuk dari bahan-bahan organik tumbuhan dan hewan yang telah membusuk. Jenis-jenis tanah di Indonesia antara lain:
a.    Tanah gambut adalah tanah yang berasal dari bahanorganik yang selalu tergenang air (rawa) dan kekurangan unsur hara, sirkulasi udara tidak lancar, proses penghancuran tidak sempurna, kurang baik untuk pertanian. Banyak terdapat di Kalimantan, Sumatra Timur, dan Papua.
b.    Tanah mergel adalah tanah campuran dari batuan kapur, pasir, dan tanah liat yang dikarenakan hujan yang tidak merata. Banyak terdapat di lereng pegunungan dan dataran rendah seperti di Solo, Madiun, Kediri, dan Nusa Tenggara.
c.     Tanah kapur (renzina) adalah tanah yang terbentuk dari bahan induk kapur yang mengalami laterisasi lemah. Banyak terdapat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sumatra.
d.     Tanah endapan atau  tanah aluvial  adalah tanah yang terbentuk karena pengendapan batuan induk dan telah mengalami proses pelarutan air. Jenis tanah ini merupakan tanah subur dan banyak terdapat di Jawa bagian utara, Sumatra bagian timur, Kalimantan bagian barat dan selatan.
e.    Tanah terrarosa adalah tanah hasil pelapukan batuan kapur. Jenis tanah ini banyak terdapat di daerah dolina  dan merupakan daerah pertanian yang subur. Daerah persebarannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sumatra.
f..    Tanah humus adalah tanah hasil pelapukan tumbuhan(bahan organik), berwarna hitam sangat subur, cocok untuk pertanian. Banyak terdapat di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Papua.
g.    Tanah vulkanis adalah tanah hasil pelapukan bahan padat dan bahan cair yang dikeluarkan gunung berapi. Jenis tanah ini sangat subur dan cocok untuk pertanian. Jenis tanah ini banyak terdapat di daerah Jawa, Sumatra, Bali, Lombok, Halmahera, dan Sulawesi.
h.    Tanah padzol adalah tanah yang terjadi karena temperaturdan curah hujan yang tinggi, sifatnya  mudah basah, dan subur jika terkena air. Jenis tanah ini berwarna kuning keab abuan dan cocok untuk perkebunan. Banyak terdapat di pegunungan tinggi.
i.    Tanah laterit  adalah tanah yang terbentuk karenatemperatur dan curah hujan yang tinggi. Namun jenis tanah ini kurang subur dan banyak terdapat di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat.
j.    Tanah pasir adalah tanah hasil pelapukan batuan beku dan sedimen dan tidak berstruktur. Jenis tanah ini kurang baik untuk pertanian karena sedikit mengandung bahan organik. Banyak terdapat di pantai barat Sumatra Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi.

B.     KONDISI PENDUDUK INDONESIA

Indonesia merupakan negara kesatuan yang masyarakatnya majemuk yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang menyebar dari Sabang (ujung Sumatra Utara) sampai Merauke (ujung Papua).
1.    Pembagian Ras  Penduduk Indonesia
Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, masyarakat Indonesia dapat dibedakan menjadi 4 (empat) kelompok ras, yaitu:
a.    Kelompok ras Papua Melanezoid, terdapat di Papua/Irian, Pulau Aru, Pulau Kai.
b.    Kelompok ras Negroid, antara lain orang Semang di semenanjung Malaka, orang Mikopsi di Kepulauan Andaman.
c.    Kelompok ras Weddoid , antara lain orang Sakai di Siak Riau, orang Kubu di Sumatra Selatan dan Jambi, orang Tomuna di Pulau Muna, orang Enggano di Pulau Enggano, dan orang Mentawai di Kepulauan Mentawai.
d.    Kelompok ras Melayu Mongoloid, yang dibedakan menjadi 2(dua) golongan.
1)     Ras Proto Melayu (Melayu Tua) antara lain Suku Batak, Suku Toraja, Suku Dayak.
2)     Ras Deutro Melayu (Melayu Muda) antara lain Suku Bugis, Madura, Jawa, Bali.
Di samping kelompok ras di atas, masyarakat Indonesia juga terdiri dari kelompok warga keturunan Cina (ras Mongoloid), warga keturunan Arab, Pakistan, India, ras Kaukasoid, dan sebagainya yang hidup berdampingan membaur menjadi satu warga negara Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak mengenal superioritas suatu ras dan tidak menganut paham rasialisme. Salah satu perekat suku bangsa yang berbeda-beda di Indonesia adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yangtermasuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

2.    Keanekaragaman Suku Bangsa
Masyarakat Indonesia yang majemuk terdiri atas beberapa suku bangsa (etnis) yang masing-masing memiliki bahasa dan adat istiadat serta budaya yang berbeda. Menurut hasil penelitian Hilderd Geertz, Indonesia terdiri dari 300 etnis yang berbeda-beda. Adapun menurut penelitian MA Jaspan, masyarakat Indonesia terdiri atas 366 etnis dengan kriteria pada bahasa daerah, kebudayaan serta susunan masyarakatnya. Lain lagi menurut penelitian Van Vollenhoven yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia terbagi menjadi 19 lingkaran hukum adat dengan berbagai suku Lalu apakah yang dimaksud etnik itu? Apa pula bedanya dengan ras?
Robertson pada tahun 1977 mengemukakan pendapatnya bahwa  kelompok etnik adalah sejumlah besar orang yang memandang diri dan dipandang oleh kelompok lain memiliki kesatuan bangsa (etnis) yang ada di dalamnya. budaya yang berbeda. Hal ini terjadi sebagai akibat dari sifat-sifat budaya bersama dan interaksi timbal balik  yang terus menerus. Jika istilah ras berkaitan dengan ciri-ciri fisik tubuh, etnisitas lebih berkaitan dengan karakteristik budaya suatu kelompok tertentu. Karakterisrik budaya ini dibentuk dan dihasilkan oleh perbedaan bahasa, agama, suku bangsa, kedaerahan, dan tempat lahir. Hal yang membedakan antara etnis yang satu dengan yang lainnya adalah perbedaan bahasa (bahasa daerah) dan adat istiadat. Perbedaan adat istiadat  menunjukkan perbedaan kebudayaan yang nampak dari pola perilaku atau gaya hidup. Pola perilaku orang Batak yang suka bicara terus terang, sehingga terkesan tegas dan keras sangat berbeda dengan pola perilaku orang Jawa Tengah (khususnya Solo dan Jogja) yang suka berbicara hati-hati penuh dengan sindiran secara halus sehingga berkesan kurang tegas. Secara rinci dapat kita uraikan tentang perbedaan antara etnis yang satu dan lainya, dalam hal:
a.    Perbedaan bahasa daerah.
b.    Perbedaan tata susunan kekerabatan, misalnya ada yang menganut patrilineal, matriliniel, dan parental.
c.    Perbedaan adat istiadat, misalnya dalam upacara perkawinan, upacara adat, hukum adat, dan lain-lain.
d.    Perbedaan sistem mata pencaharian.
e.    Perbedaan teknologi, misalnya bentuk arsitektur rumah/bangunan adat, peralatan kerja tradisional.
f.    Perbedaan kesenian daerah.
Adapun beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan bahasa dan adat istiadat adalah:
a.    Keadaan dan letak geografis yang berbeda.
b.    Pemukiman penduduk yang terpisah-pisah  di pulau-pulau terpencil yang menghambat kontak dengan  daerah lain.
c.    Latar belakang sejarah yang berbeda.
d.    Lingkaran hukum adat dan kemasyarakatan yang berlainan.

Iklan

One comment on “KONDISI FISIK WILAYAH DAN PENDUDUK INDONESIA

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: